HI, I’M MARSONO RH

We are next TV Broadcaster

About Me

I'm a TV Broadcaster

Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros.’ (QS Al Isra- ayat 26)

(Dan berikanlah) kasihkanlah (kepada keluarga-keluarga yang dekat) famili-famili terdekat (akan haknya) yaitu memuliakan mereka dan menghubungkan silaturahmi kepada mereka (kepada orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan; dan janganlah kamu menghambur-hamburkan hartamu secara boros) yaitu menginfakkannya bukan pada jalan ketaatan kepada Allah. (Tafsir Jalalayn).

MARSONO RH Broadcaster

My Services

WHAT I CAN DO

Broadcast System

Media Online

Editing

Berikanlah kepada keluarga-keluarga dekatmu hak mereka berupa kebajikan dan jalinan silaturrahmi. Berikan juga hak orang-orang miskin yang membutuhkan dan musafir yang kehabisan harta dalam bentuk zakat dan sedekah. Janganlah menghambur-hamburkan hartamu pada hal-hal yang tidak mendatangkan maslahat, secara berlebih-lebihan..
  • Studio TV 90%
  • EFP - OB Van System 90%
  • Media Online 86%
  • Editor 88%

My Blog

MY BEST WORKS

Lessons learnt from Epstein Scandal

Terkini

Berita Dunia

Politik

Ekonomi

Hukum

Metropolitan

Gaya Hidup

Olahraga

Sepakbola

Mengapa Mahasiswa Pintar Justru Kesulitan Menentukan Arah Karier?

 

Di ruang-ruang kuliah, mahasiswa dengan indeks prestasi tinggi kerap dipandang sebagai sosok yang masa depannya “aman”. Nilai akademik gemilang, aktif berdiskusi, dan cepat memahami materi sering dianggap sebagai tiket menuju karier cemerlang. Namun realitas berkata lain. Tidak sedikit mahasiswa berprestasi justru merasa bingung, ragu, bahkan cemas ketika harus menentukan arah karier setelah lulus.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kepintaran akademik tidak selalu sejalan dengan kejelasan masa depan profesional.

Terlalu Fokus pada Akademik

Sejak awal perkuliahan, banyak mahasiswa pintar diarahkan—atau mengarahkan diri sendiri—untuk mengejar kesempurnaan nilai. IPK tinggi menjadi prioritas utama. Orientasi ini memang menghasilkan prestasi, tetapi kerap mengorbankan eksplorasi minat di luar kelas.

Akibatnya, ketika lulus, mereka unggul secara teori namun kurang mengenal dinamika dunia kerja. Pilihan karier terasa asing karena sebelumnya tidak pernah benar-benar dijajal melalui pengalaman nyata.

Minim Refleksi Diri

Kemampuan akademik tidak otomatis dibarengi dengan pemahaman diri. Di tengah lingkungan kampus yang kompetitif, mahasiswa sering kali sibuk memenuhi ekspektasi dosen, orang tua, maupun standar institusi.

Pertanyaan mendasar seperti “Apa yang benar-benar saya minati?” atau “Lingkungan kerja seperti apa yang cocok untuk saya?” sering tertunda. Tanpa refleksi yang cukup, keputusan karier cenderung diambil berdasarkan logika rasional semata, bukan kecocokan personal.

Terlalu Banyak Pilihan

Mahasiswa berprestasi umumnya memiliki lebih banyak opsi. Mereka bisa melanjutkan studi, bekerja di perusahaan besar, masuk sektor publik, atau merintis usaha sendiri. Ironisnya, kelimpahan pilihan justru dapat memicu kebimbangan.

Kondisi ini kerap disebut sebagai analysis paralysis—terlalu banyak menganalisis hingga sulit mengambil keputusan. Keinginan memilih jalan yang “paling tepat” justru membuat langkah pertama tak kunjung diambil.

Kurangnya Pengalaman Praktis

Tidak sedikit mahasiswa yang menunda magang, organisasi, atau proyek sosial demi menjaga fokus akademik. Padahal, pengalaman praktis berperan penting dalam membantu seseorang memahami ritme kerja, tekanan profesional, serta ekspektasi industri.

Tanpa pengalaman tersebut, mahasiswa kesulitan membayangkan dirinya berada di bidang tertentu. Dunia kerja menjadi konsep abstrak yang sulit dipetakan.

Tekanan Ekspektasi

Mahasiswa pintar juga kerap dibebani ekspektasi tinggi. Lingkungan berharap mereka meraih posisi bergengsi dengan penghasilan besar. Tekanan ini membuat proses memilih karier terasa berat, seolah setiap keputusan harus sempurna.

Rasa takut mengecewakan orang lain akhirnya memunculkan keraguan pada pilihan sendiri. Padahal, karier bukanlah perlombaan satu garis finis, melainkan perjalanan panjang yang penuh penyesuaian.

Menata Ulang Perspektif

Kebingungan karier bukan tanda kegagalan, melainkan fase transisi yang wajar. Untuk mengatasinya, mahasiswa perlu menyeimbangkan capaian akademik dengan eksplorasi diri.

Refleksi terhadap minat, nilai hidup, dan gaya kerja menjadi langkah awal yang penting. Mengikuti magang, terlibat dalam organisasi, berdiskusi dengan profesional, serta membangun jejaring dapat membuka perspektif baru.

Yang tak kalah penting, pahami bahwa memilih karier bukan keputusan sekali seumur hidup. Jalur profesional dapat berubah seiring pengalaman dan perkembangan diri.

Pada akhirnya, kepintaran akademik adalah modal berharga, tetapi bukan satu-satunya kompas penentu arah. Kejelasan karier lahir dari kombinasi refleksi, pengalaman, dan keberanian mengambil langkah pertama—meski belum sepenuhnya yakin.

Lulus S1, Langsung S2 atau Kerja Dulu? Menimbang Gelar dan Pengalaman

 



JAKARTA, — Lulus Strata 1 (S1) kerap menjadi titik balik penting dalam perjalanan hidup seseorang. Di satu sisi, ada dorongan untuk segera melanjutkan studi ke jenjang Strata 2 (S2) demi meraih gelar yang lebih tinggi. Di sisi lain, peluang kerja terbuka lebar dan menawarkan pengalaman nyata di dunia profesional.

Pertanyaannya, mana yang sebaiknya dipilih: mengejar gelar atau mengejar pengalaman?

Gelar akademik masih memiliki nilai strategis, terutama di bidang pendidikan, riset, serta jabatan struktural tertentu yang mensyaratkan kualifikasi pendidikan lanjutan. Pendidikan S2 dapat membuka akses ke posisi yang lebih spesifik, memperluas jejaring profesional, serta meningkatkan kompetensi akademik.

Namun demikian, pengalaman kerja juga memegang peranan penting. Banyak perusahaan mempertimbangkan kemampuan praktis, keterampilan memecahkan masalah, serta rekam jejak kerja sebagai faktor utama dalam proses rekrutmen. Pengalaman sejak dini dinilai membantu lulusan memahami budaya kerja sekaligus membangun portofolio yang relevan.

Melanjutkan pendidikan ke jenjang S2 segera setelah lulus S1 memiliki sejumlah kelebihan. Ritme belajar yang masih terjaga memudahkan adaptasi terhadap tuntutan akademik yang lebih tinggi. Selain itu, peluang beasiswa sering kali lebih terbuka bagi lulusan baru.

Lulusan S2 juga dinilai memiliki keunggulan kompetitif untuk jalur karier akademik maupun posisi strategis tertentu yang mensyaratkan kualifikasi pendidikan lanjutan.

Pilihan ini umumnya cocok bagi mereka yang telah memiliki tujuan karier yang jelas dan membutuhkan gelar tambahan sebagai syarat utama.

Di sisi lain, bekerja setelah lulus S1 memberikan pengalaman langsung di dunia profesional. Lulusan dapat mengasah keterampilan nonteknis (soft skill) seperti komunikasi, kepemimpinan, serta manajemen waktu.

Penghasilan yang diperoleh dari bekerja juga dapat menjadi modal untuk melanjutkan studi tanpa sepenuhnya bergantung pada beasiswa. Selain itu, pengalaman kerja membantu seseorang menentukan bidang spesialisasi yang benar-benar diminati sebelum menempuh studi lanjutan, sehingga pendidikan S2 menjadi lebih terarah.

Masing-masing pilihan memiliki tantangan tersendiri. Melanjutkan S2 tanpa jeda berisiko menimbulkan kejenuhan akademik serta minimnya pengalaman praktis. Sebaliknya, bekerja terlebih dahulu dapat membuat rencana studi lanjutan tertunda karena faktor kenyamanan finansial atau kesibukan pekerjaan.

Oleh karena itu, kesiapan mental, kondisi finansial, serta target jangka panjang perlu dipertimbangkan secara matang sebelum mengambil keputusan.

Tidak ada pilihan yang sepenuhnya benar atau salah. Keputusan terbaik bergantung pada tujuan pribadi dan rencana karier masing-masing individu. Jika profesi yang diincar mensyaratkan gelar tinggi, melanjutkan S2 bisa menjadi langkah strategis. Namun, jika ingin segera mandiri dan membangun pengalaman profesional, bekerja lebih dahulu merupakan opsi realistis.

Menyusun rencana lima hingga sepuluh tahun ke depan dapat membantu memperjelas arah dan menentukan prioritas, apakah gelar atau pengalaman yang lebih mendesak untuk dikejar.

Pada akhirnya, gelar dan pengalaman sama-sama memiliki peran penting dalam perjalanan karier. Perbedaannya hanya pada urutan dan waktu yang dipilih untuk mencapainya.

 Bea Cukai Segel Tiga Gerai Tiffany & Co di Jakarta karena Dugaan Pelanggaran Impor


JAKARTA, — Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kantor Wilayah Jakarta menyegel tiga gerai perhiasan mewah Tiffany & Co di Jakarta pada Rabu (11/2/2026). Penyegelan dilakukan terkait dugaan pelanggaran administrasi atas barang impor bernilai tinggi yang diperdagangkan di dalam negeri.

Tiga gerai yang disegel berada di pusat perbelanjaan Plaza Senayan, Plaza Indonesia, dan Pacific Place. Penindakan tersebut merupakan bagian dari operasi pengawasan barang impor yang beredar di pasar domestik.

Kepala Seksi Penindakan DJBC Kanwil Jakarta, Siswo Kristyanto, mengatakan penyegelan dilakukan setelah petugas menemukan indikasi ketidaksesuaian antara barang yang dijual dengan dokumen Pemberitahuan Impor Barang (PIB).

“Kami sedang melakukan pencocokan antara stok fisik dengan dokumen kepabeanan yang telah diajukan,” ujar Siswo dalam keterangannya.

Menurut dia, pihak manajemen diminta memberikan penjelasan secara rinci terkait dokumen dan asal barang impor tersebut. Proses klarifikasi ini diperlukan agar dapat dipastikan ada atau tidaknya pelanggaran administrasi.

Menindaklanjuti tindakan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah tidak akan menoleransi praktik impor ilegal yang berpotensi merugikan negara maupun industri dalam negeri.

Ia menyatakan seluruh barang impor yang masuk ke Indonesia wajib melalui prosedur dan jalur resmi sesuai ketentuan kepabeanan. “Bea Cukai menjalankan tugas untuk memastikan barang yang beredar telah memenuhi aturan hukum yang berlaku,” kata Purbaya.

Pemerintah juga membuka kemungkinan memperluas pemeriksaan apabila ditemukan indikasi serupa di lokasi atau perusahaan lain.

Apabila dalam proses audit ditemukan pelanggaran, perusahaan berpotensi dikenai sanksi administratif sesuai Undang-Undang Kepabeanan. Sanksi tersebut dapat berupa denda hingga 1.000 persen dari nilai kepabeanan dan pajak impor yang seharusnya dibayarkan.

Bea Cukai menegaskan pemeriksaan masih berlangsung dan belum menyimpulkan adanya pelanggaran final.

Kasus ini menjadi perhatian publik karena melibatkan merek perhiasan global ternama. Dalam beberapa hari ke depan, DJBC akan melanjutkan pemeriksaan administratif serta meminta klarifikasi tambahan dari pihak manajemen Tiffany & Co di Indonesia.

Pemerintah menyatakan komitmennya untuk terus memperketat pengawasan terhadap barang impor bernilai tinggi guna menjaga persaingan usaha yang sehat serta kepatuhan terhadap aturan perdagangan dan kepabeanan.

Aplikasi PINTAR BI Dibuka untuk Tukar Uang Lebaran 2026, Simak Cara dan Jadwalnya


JAKARTA, — Bank Indonesia (BI) kembali membuka layanan penukaran uang baru untuk kebutuhan Lebaran 2026 melalui aplikasi PINTAR BI. Program ini merupakan bagian dari Semarak Rupiah Ramadan dan Berkah Idulfitri (SERAMBI) 2026 yang rutin digelar setiap menjelang Hari Raya Idulfitri.

Layanan berbasis digital tersebut dihadirkan untuk mempermudah masyarakat dalam memperoleh uang pecahan baru tanpa harus mengantre panjang di lokasi penukaran. Dengan sistem pemesanan daring, masyarakat dapat memilih jadwal serta lokasi penukaran sesuai kuota yang tersedia.

Jadwal Pemesanan

Pemesanan penukaran uang melalui aplikasi PINTAR BI dibuka secara bertahap. Untuk wilayah Pulau Jawa, pemesanan dimulai pada 13 Februari 2026 pukul 14.00 WIB. Sementara itu, wilayah luar Pulau Jawa dapat melakukan pemesanan mulai 14 Februari 2026 pukul 08.00 WIB.

Setelah melakukan pemesanan secara online, masyarakat dapat menukarkan uang secara langsung di lokasi kas keliling yang telah dipilih sesuai jadwal yang tertera.

Jadwal Penukaran

Adapun layanan penukaran uang secara fisik melalui kas keliling Bank Indonesia akan berlangsung pada 18 hingga 27 Februari 2026. BI mengimbau masyarakat untuk datang tepat waktu sesuai jadwal guna menghindari antrean dan memastikan proses berjalan tertib.

Cara Pemesanan

Pemesanan dilakukan melalui situs resmi PINTAR BI di https://pintar.bi.go.id. Berikut langkah-langkahnya:

  1. Akses laman resmi melalui komputer atau ponsel.

  2. Pilih menu penukaran uang Rupiah melalui kas keliling.

  3. Tentukan provinsi, kota, lokasi, dan jadwal yang tersedia.

  4. Isi data diri sesuai identitas resmi yang masih berlaku.

  5. Simpan dan unduh bukti pemesanan.

Bukti pemesanan wajib dibawa saat penukaran, bersama dengan KTP asli yang sesuai dengan data pendaftaran.

Upaya Menjaga Ketertiban dan Kenyamanan

Melalui sistem digital ini, BI berupaya memastikan distribusi uang layak edar menjelang Idulfitri dapat berjalan lebih efisien dan aman. Pengaturan kuota serta jadwal secara online diharapkan mampu meminimalkan kerumunan dan meningkatkan kenyamanan masyarakat.

Masyarakat juga diminta memastikan data yang diinput benar serta memperhatikan jadwal pemesanan dan penukaran agar proses berjalan lancar.

Pembukaan layanan tukar uang melalui aplikasi PINTAR BI menjadi salah satu langkah strategis Bank Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang pecahan baru masyarakat menjelang Lebaran 2026.

Sebagai Pilar Keempat Demokrasi, Pers Harus Independen


Kondisi saat ini memperlihatkan banyak persoalan yang sedang dialami insan pers. Terlebih menghadapi pemilu 2024 pers pun dituntut terus independen karena intervensi mengancam keberadaannya. Tidak hanya pemerintah, kepentingan bisnis, intervensi bisa juga datang dari kepentingan kelompok dan kepentingan individu (personal).

 

Nyarwi Ahmad, Ph.D, dosen dan pengamat komunikasi politik UGM sekaligus Direktur Eksekutif Indonesiaan Presidential Studies (IPS), mengatakan pers kapanpun harus independen. Semangat independensi penting mengingat sebagai pilar keempat demokrasi keberadaan pers sangat dibutuhkan di tengah kehidupan masyarakat.

 

“Bukan hanya sebagai watchdog yang berperan mengawasi, mengevaluasi dan mengingatkan kinerja, mengawasi dan memberi kritikan terhadap siapapun yang memimpin lembaga legislatif, eksekutif dan lembaga-lembaga yang terkait penegakan hukum. Tetapi media juga perlu mengangkat atau merespons isu yang berkembang di dalam masyarakat baik terkait ekonomi, politik, hukum, pendidikan, kebudayaan dan hal lain,” ujarnya di Departemen Ilmu Komunikasi, Fisipol UGM, Kamis (9/2).

 

Meski selalu dituntut independen, Nyarwi menilai media sebenarnya wajar memiliki orientasi tertentu atau keberpihakan selama orientasi atau keberpihakan tersebut masih dalam koridor kepentingan publik. Artinya untuk kepentingan masyarakat, kinerja-kinerja media masih mengawal kepentingan publik.

 

Hal itu bisa dilakukan media entah dalam rangka mengkritisi atau bahkan memberikan masukan pada lingkar kekuasaan eksekutif, legislatif dan lembaga-lembaga penegak hukum.

 

“Mungkin bisa juga dengan mengingatkan masyarakat terkait beberapa hal yang krusial yang menjadi agenda publik, dimana masyarakat tidak menyadari secara penuh. Keberpihakan itu harus malah, tetapi yang perlu dijaga adalah profesionalitas dalam bekerja,” katanya.

 

Di hari pers kali ini, Nyarwi berharap insan media tetap berpegang kuat pada prinsip-prinsip jurnalisme. Dalam menjalankan kinerjanya media diharapkan memegang prinsip sebagai pilar keempat demokrasi.

 

Di tengah perkembangan platform digital dan media sosial, media tetap dituntut profesional dalam membuat cover boothside, melakukan verifikasi, mencerna dan menyaring informasi hingga menghasilkan sebuah sumber berita yang dipercaya (kredibel). Berita-berita yang mencerdaskan, mendidik, dan mencerahkan.

 

“Di tengah perkembangan yang terus terjadi, profesionalitas dan kapasitas kinerja dari organisasi media menjadi sesuatu yang sangat penting dikembangkan secara serius,” ucapnya.

 

Nyarwi mengakui media saat ini dihadapkan tantangan-tantangan lain berupa munculnya raksasa digital. Bagaimana media saat ini begitu sangat tergantung dan dituntut adaptif.

 

“Media memang harus adaptif, termasuk pekerja media juga harus adaptif terhadap perkembangan komunikasi-komunikasi digital hari ini. Adaptasi ini menentukan seberapa media akan survive baik secara ekonomi politik maupun sosial,” paparnya.

 

Meski begitu, hasil survei IPS di tahun 2022 memperlihatkan tingkat kepercayaan masyarakat secara umum terhadap media mainstream masih lebih tinggi dibanding media sosial. Mayoritas publik dalam survei tersebut sangat/cukup percaya pada media formal, TV, Radio dan Koran dan lebih percaya pada jenis media tersebut dibandingkan dengan media sosial.

 

Hasil survei menunjukan sebanyak 74,4 persen masyarakat percaya pada media formal, sementara tingkat kepercayaan pada media sosial sebesar 12,7 persen. Meskipun di sini perilaku masyarakat dalam mengakses media mainstream seringkali tidak secara rampung melalui platform-platform digital.  

 

“Bagaimanapun media mainstream hingga saat ini masih menjadi acuan utama. Adaptasi disini diperlukan oleh media mainstream karena keberadaan media mainstream boleh dibilang cukup tergantung platform-platform raksasa digital,” katanya.

 

Mengacu periode sebelumnya dalam konteks pemilu dan pilpres, Nyarwi melihat independensi media atau agenda setting media tidak lepas dari orientasi politik dari para pemiliknya. Di sinilah, menurutnya, situasi kurang beruntung karena media-media mainstream yang besar yang cukup mayoritas dimiliki oleh orang-orang yang memiliki orientasi politik atau punya lembaga politik seperti partai politik.

 

Taruh Media Grup dengan sang pemilik Surya Palloh, MNC ada Hary Tanoesoedibjo. Belum lagi irisan-irisan dari itu, seperti Golkar misalnya ada Aburizal Bakrie, Berita Satu dan lain-lain. Artinya peluang para pemilik mengintervensi terhadap agenda setting media cukup besar.

 

Peluang tersebut cukup besar terjadi, misalnya di tengah situasi politik yang landscapenya polarisasi seperti beberapa periode yang lalu. Karena tanpa polarisasi politik pun sudah kelihatan, misalnya orientasi keberpihakan atau support baik secara tertutup maupun terbuka, kecenderungan agenda setting media terhadap orientasi politik baik pada pemerintahan yang sedang berkuasa maupun capres-capres yang potensial bertarung.

 

“Ini berdasar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya tampak nyata dan bisa dirasakan oleh mayoritas banyak orang. Tentu disana, menjadi tantangan sulit bagi para jurnalis, sejauh mana para jurnalis, pimpinan media atau orang-orang profesional di media itu menjaga agenda setting media  dan cara kerja media bisa mengelola dinamika prioritas agenda setting maupun informasi politik yang ditampilkan, framing dan lainnya itu lebih bisa mencerahkan atau mendidik masyarakat,” jelasnya.

 

Situasi semacam ini, menurut Nyarwi, justru sebenarnya menjadi tantangan tersendiri bagi para pengelola, jurnalis dan pekerja di media. Dalam kondisi ini seorang jurnalis memang harus selalu diingatkan bagaimana mereka bekerja dengan prinsip-prinsip jurnalis.

 

Menurut Nyarwi hal lain yang bisa menolong adalah adanya aturan-aturan, misal soal regulasi kampanye. Hal semacam itu bisa menolong dan menjaga media pada relnya sebagai lembaga yang independen, yang berada di luar kekuasaan yang tugasnya menjaga kepentingan publik.

 

“Ditambah ada UU Pers, UU Penyiaran, di KPI ada panduan penyiaran. Bisa menjadi panduan bagaimana pers dan penyiaran tidak menyimpang. Regulasi yang lain ada di UU Pemilu dan pengawasan Pemilu. Dengan regulasi-regulasi semacam itu diharapkan media tidak lagi bisa dimanfaatkan oleh kelompok-kelompok tertentu sebagai propaganda politik atau mobilisasi politik. Karena kalau terjadi penyimpangan publik yang dirugikan, dan tingkat kepercayaan pada media akan menurun makanya tingkat kepercayaan yang tinggi harus tetap dijaga,” ungkapnya.

 

Penulis : Agung Nugroho

https://ugm.ac.id/id/berita/23449-sebagai-pilar-keempat-demokrasi-pers-harus-independen/

Contact Me

Get in touch